Kondisi infrastruktur di sejumlah wilayah bekas kekuasaan SDF di Suriah timur laut masih menyisakan persoalan serius bagi warga sipil, terutama setelah rusaknya jembatan-jembatan vital menjelang masuknya kembali pasukan pemerintah.
Tidak semua desa di wilayah eks SDF memiliki kemampuan atau sumber daya untuk memperbaiki jembatan yang dihancurkan pada fase-fase akhir penguasaan kelompok tersebut, khususnya jembatan yang menghubungkan jalur utama ekonomi dan mobilitas warga.
Di beberapa daerah, kehancuran jembatan menyebabkan desa-desa terisolasi secara praktis, memutus akses ke pasar, layanan kesehatan, dan fasilitas pendidikan yang sebelumnya bergantung pada jalur darat.
Salah satu contoh paling menonjol terjadi di Provinsi Hasakah, tepatnya di wilayah Tel Tamr, di mana jembatan penting di atas Sungai Khabur mengalami kerusakan parah dan hingga kini belum sepenuhnya diperbaiki.
Jembatan tersebut berada di jalur strategis Jalan M4, salah satu arteri utama yang menghubungkan wilayah timur dan barat Suriah, sehingga kerusakannya berdampak luas bagi aktivitas sipil dan perdagangan lokal.
Warga setempat terpaksa menyeberangi Sungai Khabur dengan cara-cara darurat yang berisiko, terutama bagi anak-anak, lansia, dan perempuan, karena tidak adanya jalur alternatif yang aman.
Kelompok SDF sebelumnya menyatakan bahwa jembatan itu runtuh akibat banjir Sungai Khabur, namun berbagai sumber lokal dan warga menyebutkan bahwa jembatan tersebut sengaja diledakkan sebelum mundurnya pasukan mereka.
Situasi di Hasakah ini berbeda dengan kondisi di sejumlah desa di Deir Ezzour dan Raqqa yang menunjukkan kapasitas pemulihan lebih besar berkat inisiatif kolektif masyarakat.
Di dua wilayah tersebut, warga desa secara gotong royong membangun timbunan tanah sebagai solusi darurat untuk menyambung ruas-ruas jembatan yang terputus agar kendaraan dan pejalan kaki tetap bisa melintas.
Upaya swadaya ini dilakukan dengan alat seadanya sebagai bentuk respons cepat agar kehidupan ekonomi desa tidak sepenuhnya lumpuh.
Selain inisiatif warga, pemerintah Suriah juga mulai turun tangan dengan membangun jembatan Bailey di sejumlah titik strategis di Deir Ezzour dan Raqqa guna memulihkan konektivitas antarwilayah.
Pembangunan jembatan Bailey ini menjadi solusi sementara namun krusial, terutama untuk mendukung pergerakan logistik, bantuan kemanusiaan, dan aktivitas administratif pasca-kembalinya aparat negara.
Namun, dukungan serupa belum sepenuhnya menjangkau semua wilayah Hasakah, yang memiliki kondisi geografis dan politik lebih kompleks dibanding wilayah selatan Sungai Efrat.
Keterbatasan anggaran, keamanan yang belum sepenuhnya stabil, serta skala kerusakan yang luas menjadi faktor penghambat percepatan rehabilitasi infrastruktur di wilayah tersebut.
Akibatnya, sebagian desa di Hasakah masih harus bergantung pada jalur-jalur darurat yang tidak layak dan berbahaya, terutama saat musim hujan atau saat debit sungai meningkat.
Warga menilai ketimpangan ini menciptakan rasa ketidakadilan, karena desa-desa lain di wilayah eks SDF mulai kembali terhubung, sementara mereka tetap terisolasi.
Para tokoh masyarakat setempat mendesak agar perbaikan jembatan di Tel Tamr dan wilayah sekitarnya dijadikan prioritas nasional karena posisinya yang strategis di jalur M4.
Mereka menekankan bahwa pemulihan infrastruktur bukan hanya soal teknis, tetapi juga kunci rekonsiliasi sosial dan pemulihan kepercayaan warga terhadap negara.
Tanpa akses jalan dan jembatan yang layak, proses normalisasi kehidupan pascakonflik dikhawatirkan akan berjalan timpang dan tidak merata.
Kondisi di Hasakah menjadi pengingat bahwa dampak penghancuran infrastruktur menjelang peralihan kekuasaan tidak dapat diselesaikan secara instan dan membutuhkan perhatian serius.
Ke depan, keberhasilan stabilisasi wilayah eks SDF akan sangat ditentukan oleh kemampuan negara dan masyarakat bekerja bersama untuk memulihkan jembatan-jembatan yang kini menjadi simbol keterputusan dan harapan.












0 komentar:
Posting Komentar